Jaga Kualitas Tanah, Komisi IV DPR RI Imbau Petani di Pangandaran Gunakan Pupuk Organik

Img
ANGGOTA Komisi IV DPR RI dari Fraksi PPP Asep Maoshul Ahmad Affandy saat di Pangandaran. smf/ruber.id

PANGANDARAN, ruber.id — Petani di Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat, diimbau gunakan pupuk organik saat bertani.

Anggota Komisi IV DPR RI dari Fraksi PPP Asep Maoshul Ahmad Affandy mengatakan, penggunaan pupuk organik merupakan salah satu upaya pelestarian alam yang kini mulai rusak akibat tangan manusia.

Sebagian besar, kata Asep, petani di Indonesia saat ini menggunakan pupuk kimia untuk memenuhi kebutuhan bertani, termasuk di Kabupaten Pangandaran.

Maka dari itu, pihaknya mengimbau disaat musim tanam padi para petani di Pangandaran memanfaatkan pupuk non kimia.

“Pupuk kandang dan kompos itu lebih ramah lingkungan juga lebih menjaga kelestarian alam,” katanya kepada ruber.id di Pangandaran, Sabtu (15/2/2020).

Baca juga:  Penyelamatan Lahan Pertanian, Pangandaran Butuh 186 UPPO

Selain itu, tanaman yang menggunakan pupuk kandang dan kompos hasilnya pun bisa maksimal jika dikelola dengan baik dan benar.

Asep menuturkan, ketergantungan petani terhadap pupuk kimia sudah seharusnya disadarkan sejak sekarang dan disosialisasikan ke berbagai pihak.

Pada jaman dulu, kata Asep, orang memelihara hewan ternak itu kotoran limbahnya dimanfaatkan untuk membuat pupuk.

Di jaman sekarang, orang memelihara kambing dan ayam itu mengutamakan prosfek bisnisnya. Bahkan, pencemarannya jadi sangat terasa berdampak ke lingkungan.

Terlebih, pihaknya mengimbau para petani untuk tidak membakar jerami di area sawah karena cacing tanah bakal mati.

Asep menyebutkan, salah satu kesuburan tanah itu karena adanya oksigen dan cacing tanah termasuk penyubur tanah. Maka, jerami sisa panen di sawah jangan dibakar.

Baca juga:  Lumbung Padi di Pangandaran Ini Dapat Bantuan Rp500 Juta

Asep berharap pemerintah dari pusat hingga ke daerah dapat memaksimalkan pembinaan kepada petani dengan diberi wawasan dan pelatihan. (R001/smf)

BACA JUGA: Harga Naik, Cabai Produksi Petani Pangandaran Belum Mampu Stabilkan Harga