EKBIS  

Jualan Online Produk Ini, Apay Raup Omset Ratusan Juta Tiap Bulan

JAPAR Sidik atau Apay, pengusaha makanan asal Kota Tasikmalaya ini berhasil meraup untung ratusan juta setiap bulannya bahkan di saat pandemi Covid-19. tasya/ruber.id
JAPAR Sidik atau Apay, pengusaha makanan asal Kota Tasikmalaya ini berhasil meraup untung ratusan juta setiap bulannya bahkan di saat pandemi Covid-19. tasya/ruber.id

BERITA TASIKMALAYA, ruber.id – Berbekal pengalaman menjadi marketing salah satu perusahaan operator. Japar Sidik yang akrab dipanggil Apay, 40, berhasil mengembangkan bisnis rumahan melalui jualan online, dengan omset ratusan juta per bulan.

Bersama sang istri Teni Sukmiati, 35. Apay membangun perusahaan produk Lalada di Jalan Benda Gang Buntu Nomor 52 Kelurahan Cikalang Kecamatan Tawang Kota Tasikmalaya.

Berdayakan Warga Sekitar

Ia pun berhasil memberdayakan 16 warga sekitar rumahnya untuk bekerja di pabrik makaroni miliknya itu.

Kepada wartawan, Apay mengaku sangat bersyukur kini bisa membantu mempekerjakan ibu-ibu. Warga yang berada dekat rumahnya untuk mendapat penghasilan bekerja di pabriknya, Kamis (22/7/2021).

“Alhamdulillah ilmu yang saya dapat dari bekerja di salah satu operator bagian marketing bisa saya aplikasikan dalam bisnis saya.”

“Dulu pas keluar kerja saya bingung mau kerja apa, nggak kepikiran bisnis seperti sekarang ini. Awalnya sih dulu pas keluar kerja pas nganggur, saya tiap hari membaca peluang bisnis di media sosial,” terang Apay.

Selain di Media Sosial, Juga Dipasarkan di Market Place

Setelah berhari-hari mencari peluang bisnis di media sosial. Akhirnya Apay memutuskan untuk jualan online makaroni di sejumlah market place ternama. Seperti di Shoppe, Lazada dan aplikasi jualan online lainnya dengan bermodalkan uang Rp270 ribu.

Baca juga:  Pantau Harga Sembako di Pasar Parakanmuncang Sumedang, Gubernur Emil: Warga Jangan Belanja Berlebihan

Itu pun, Apay mengaku uangnya hasil dari meminjam dari beberapa teman. Setelah itu, Apay langsung tancap gas jualan online.

“Produk yang dulu saya jual itu ngambilnya dari pabrik teman. Dan saya jualan kembali di Shopee, lazada dan aplikasi jualan online lainnya, juga di Facebook.”

“Setelah saya menjalankan ide bisnis saya, ternyata apa yang saya harapkan dari jualan online tersebut tidak berjalan mulus. Dagangan saya tidak kunjung laku dan itu sampai satu bulan tidak ada yang mau beli,” ungkap Apay.

Masuk bulan berikutnya, Apay masih bersabar berharap dagangannya di toko online laku. Benar saja, setelah menunggu sekian lama, dagangannya ada yang mau beli walaupun hanya sedikit.

“Akhirnya penantian saya terbalas, barang dagangan saya ada yang beli walaupun hanya puluhan pieces. Saya masih ingat pembeli pertama orang Panumbangan 10 pieces dan Bogor 15 pieces, saya sangat senang sekali,” ujar Apay.

Baca juga:  Bank bjb Komitmen Dukung Revolusi Pangan di Jawa Barat

Walaupun dagangannya sudah laku, Apay mengaku masalah baru pun datang. Pabrik yang biasa menyuplainya menghentikan pasokan barang dagangan kepadanya tanpa alasan. Padahal saat itu orderan sedang banyak sekali.

“Setelah pabrik yang biasa saya ambil dagangannya menghentikan pasokan barangnya pada saya. Saat itu juga, saya langsung cari informasi di internet cara membuat makaroninya. Setelah 3 hari alhamdulillah saya sudah punya resep untuk membuatnya” terang Apay.

Kesabaran yang Berbuah Manis

Seiring berjalannya waktu, akhirnya usaha yang digeluti Apay membuahkan hasil. Di tengah masa pandemi, permintaan pasar sangat besar. Omsetnya pun mencapai ratusan juta setiap bulannya.

“Alhamdulilah seiring berjalannya waktu juga berbekal pengalaman saya bisa melebarkan sayap bisnis saya,” ujarnya.

Produk-produk dijual saat ini dan beredar di pasaran. Di antaranya Makaroni Bantet, Makaroni Uril, Makaroni Kerang, Krupuk Bantet, Seblak Kering dan
Basreng.

Baca juga:  Bosan dengan Emas Warna Itu-itu Saja, UBS Tawarkan Black Gold pada Pameran di Plaza Asia

“Tiap produk ada tiga varian. Ada yang original atau asin, pedas dan ekstra pedas,” tambahnya.

Saat ini, Apay mengaku menjual produk makaroni dengan sistem agen.

“Saat ini usaha saya sudah berjalan lebih dari 2 tahun. Dan saat ini saya sudah mempunyai 6 agen semuanya ada di Jawa Timur. Alhamdulillah untuk saat ini walaupun situasi pandemi Covid-19. Omset tiap agen saya rata-rata mencapai hampir Rp60 juta per bulan,” terang Apay.

Segera Launching Produk Baru

Apay mengatakan, saat ini ia bersama istrinya fokus membuat produk dengan menyasar para pembeli kelas atas dan sebentar lagi launching.

“Untuk para konsumen yang ingin membeli produk saya bisa didapatkan melalui Instagram dan Shoppe dengan nama toko @lalada.official,” terang Apay.

Diselang waktu beristirahat di akhir pekan, ia bersama istrinya selalu rutin jalan-jalan berkeliling Kota Tasik dan sekitarnya.

Apa yang dilakukannya tak lain untuk memberikan sebagian hasil keuntungan penjualannya. Kepada orang- orang yang membutuhkan yang ia temukan saat jalan-jalan bersama istrinya. (R004)