Monday, 25 May 2020

Bukan karena Faktor Cuaca, Ini Penyebab Kasus Corona di Indonesia Melonjak versi BMKG dan UGM

Baca Juga

Virus Corona Bikin Keluarga di Boyolali Khawatir, Begini Kondisi Puluhan Mahasiswa di China

BOYOLALI, ruber.id - Pemkab Boyolali, Jawa Tengah terus memantau kondisi mahasiswa asal Boyolali di Tiongkok, paskavirus corona mewabah di Wuhan, China. Kepala Bidang Kebudayaan Program...

Sempat Dikira Musang, Buruh Tani Asal Garut Ditemukan Tak Bernyawa

GARUT, ruber -- Dadang bin Cahyan, 30, buruh tani asal Desa Cigedug, Kecamatan Cigedug, Kabupaten Garut, ditemukan warga dalam keadaan tak bernyawa, Kamis sore...

Tak Datang ke Stadion, Persija Diolok-olok Netizen, Padahal Polda Sulsel Jamin Keamanan Laga

ruberSPORT -- Batalnya laga final Piala Indonesia antara Persija Jakarta versus PSM Makassar hari ini, jadi bahan olok-olok netizen. Bahkan, sejumlah hastag terkait laga ini...

Selama Puasa Jam Kerja ASN Dipangkas, Ini Detailnya

ruber -- Pemerintah melalui Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PAN-RB) mengurangi jam kerja ASN/PNS selama Ramadan. Pengurangan jam kerja ini tertuang dalam Surat Edaran (SE)...

JAKARTA, ruber.id – Melonjaknya kasus COVID-19 di Indonesia terjadi pada gelombang kedua, atau terjadi sejak awal Maret 2020.

BMKG merilis, faktor cuaca, bukan penyebab cepatnya penyebaran wabah virus corona di Indonesia.

Melainkan disebabkan tingginya mobilitas manusia dan interaksi sosial masyarakat di Indonesia.

Terkait hal ini, di situs resmi BMKG, bmkg.go.id, Kepala BMKG Dwikorita Karnawati membenarkan jika tim BMKG yang diperkuat 11 Doktor di Bidang Meteorologi, Klimatologi, dan Matematika, telah melakukan kajian.

Kajian ini, kata Dwikorita, berdasarkan analisis statistik, pemodelan matematis, dan studi literatur tentang Pengaruh Cuaca dan Iklim dalam Penyebaran COVID-19.

Kajian ini didukung Guru Besar dan Doktor di bidang Mikrobiologi dari Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan UGM.

Hasil kajian ini, telah disampaikan kepada Presiden Joko Widodo dan Kementerian terkait, belum lama ini.

“Hasil kajian menunjukkan, meningkatnya kasus COVID-19 pada gelombang keduadi Indonesia ini lebih kuat dipengaruhi oleh pengaruh pergerakkan atau mobilitas manusia dan interaksi sosial,” ujarnya di situs resmi BMKG.

Dwikorita menjelaskan, kondisi cuaca atau iklim dan kondisi geografi kepulauan di Indonesia, sebenarnya relatif lebih rendah risikonya untuk berkembangnya wabah COVID-19.

Indonesia, kata dia, juga terletak di sekitar garis khatulistiwa dengan suhu rata-rata berkisar antara 27-30 derajat celcius, dan kelembaban udara berkisar antara 70-95%.

“Dari kajian literatur, sebenarnya merupakan lingkungan yang cenderung tidak ideal untuk outbreak COVID-19,” jelasnya.

Dwikorita menambahkan, dari hasil kajian ini tim BMKG-UGM ini, pihaknya merekomendasikan agar mobilitas penduduk dan interaksi sosial ini harus dibatasi.

Selain itu, perlu diwaspadai pula bahwa memasuki bulan April hingga Mei ini, sebagian besar wilayah Indonesia memasuki pergantian musim.

Hal ini, lanjut dia, sering ditandai dengan merebaknya wabah Demam Berdarah.

Rekomendasi BMKG-UGM Cegah Penyebaran COVID-19
Jadi, secara umum, tim BMKG-UGM juga sangat merekomendasikan agar warga terus menjaga kesehatan dan meningkatkan imunitas tubuh.

Dengan cara memanfaatkan kondisi cuaca untuk beraktivitas atau berolahraga pada jam yang tepat.

Khususnya pada bulan April hingga puncak musim kemarau di bulan Agustus mendatang.

Puncak kemarau tahun ini, diprediksi akan mencapai suhu rata-rata berkisar antara 28-32 derajat celcius, dan kelembaban udara antara 60%-80%.

“Kami juga merekomendasikan agar masyarakat lebih ketat menerapkan physical distancing dan pembatasan mobilitas orang ataupun dengan tetap tinggal di rumah.”

“Selain itu, disertai pula intervensi kesehatan masyarakat, sebagai upaya untuk memitigasi atau mengurangi penyebaran wabah COVID-19 secara lebih efektif.”

“Karena, cuaca yang sebenarnya menguntungkan ini tidak akan berarti optimal tanpa penerapan seluruh upaya pencegahan ini dengan lebih maksimal dan efektif,” tuturnya. (R003)

BACA JUGA: Kabar Baik, Peneliti UI dan IPB Temukan Kandidat Antivirus Corona

loading...

Komentar

Artikel Terbaru

Update Corona Pangandaran: 5 Orang Kontak Erat Dites Swab, 1 Pemudik Reaktif Rapid Test

PANGANDARAN, ruber.id - Tim dari Dinas Kesehatan Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat telah melakukan tracing kasus COVID-19. Hal itu menyusul...

Kasus Corona di Garut Terus Bertambah, Total 2585 ODP

GARUT, ruber.id - Tim Gugus Tugas Penanganan COVID-19 Kabupaten Garut, Jawa Barat merilis adanya tambahan 4 kasus baru ODP.

Korlesting Listrik, Ambulans di Tanjungsari Ludes Terbakar

TANJUNGSARI, ruber.id - Mobil ambulans yang sedang diperbaiki di Dusun Lanjung RT 01/06, Desa/Kecamatan Tanjungsari, Kabupaten Sumedang ludes terbakar.

Rumah Pensiunan asal Sumedang Utara Nyaris Ludes Terbakar

SUMEDANG UTARA, ruber.id - Dapur rumah milik Wahyu, 74, di Dusun Kebon Kalapa RT 01/05, Rancamulya, Sumedang Utara, Sumedang ludes terbakar.

Hari Lebaran, Pangandaran Digoyang Gempa 5.1 Magnitudo

PANGANDARAN, ruber.id - Bertepatan dengan hari raya Idul fitri 1441 Hijriyah, Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat kembali digoyang gempa, Minggu (24/5/2020).