28.4 C
Indonesia
Jumat, September 17, 2021
spot_img

Bukan karena Faktor Cuaca, Ini Penyebab Kasus Corona di Indonesia Melonjak versi BMKG dan UGM

JAKARTA, ruber.id – Melonjaknya kasus COVID-19 di Indonesia terjadi pada gelombang kedua, atau terjadi sejak awal Maret 2020.

BMKG merilis, faktor cuaca, bukan penyebab cepatnya penyebaran wabah virus corona di Indonesia.

Melainkan disebabkan tingginya mobilitas manusia dan interaksi sosial masyarakat di Indonesia.

Terkait hal ini, di situs resmi BMKG, bmkg.go.id, Kepala BMKG Dwikorita Karnawati membenarkan jika tim BMKG yang diperkuat 11 Doktor di Bidang Meteorologi, Klimatologi, dan Matematika, telah melakukan kajian.

Kajian ini, kata Dwikorita, berdasarkan analisis statistik, pemodelan matematis, dan studi literatur tentang Pengaruh Cuaca dan Iklim dalam Penyebaran COVID-19.

Kajian ini didukung Guru Besar dan Doktor di bidang Mikrobiologi dari Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan UGM.

BACA JUGA:  Tidak Ada Penambahan Kasus Baru, 8 Pasien COVID-19 di Sumedang Sembuh

Hasil kajian ini, telah disampaikan kepada Presiden Joko Widodo dan Kementerian terkait, belum lama ini.

BACA JUGA:  Tes Swab Warga Buahdua Sumedang Positif Corona

“Hasil kajian menunjukkan, meningkatnya kasus COVID-19 pada gelombang keduadi Indonesia ini lebih kuat dipengaruhi oleh pengaruh pergerakkan atau mobilitas manusia dan interaksi sosial,” ujarnya di situs resmi BMKG.

Dwikorita menjelaskan, kondisi cuaca atau iklim dan kondisi geografi kepulauan di Indonesia, sebenarnya relatif lebih rendah risikonya untuk berkembangnya wabah COVID-19.

Indonesia, kata dia, juga terletak di sekitar garis khatulistiwa dengan suhu rata-rata berkisar antara 27-30 derajat celcius, dan kelembaban udara berkisar antara 70-95%.

“Dari kajian literatur, sebenarnya merupakan lingkungan yang cenderung tidak ideal untuk outbreak COVID-19,” jelasnya.

BACA JUGA:  Update COVID-19 Pangandaran: Menggembirakan, Warga Positif Corona Masih Zero

Dwikorita menambahkan, dari hasil kajian ini tim BMKG-UGM ini, pihaknya merekomendasikan agar mobilitas penduduk dan interaksi sosial ini harus dibatasi.

Selain itu, perlu diwaspadai pula bahwa memasuki bulan April hingga Mei ini, sebagian besar wilayah Indonesia memasuki pergantian musim.

Hal ini, lanjut dia, sering ditandai dengan merebaknya wabah Demam Berdarah.

BACA JUGA:  Tidak Ada Penambahan Kasus Baru, 8 Pasien COVID-19 di Sumedang Sembuh

Rekomendasi BMKG-UGM Cegah Penyebaran COVID-19
Jadi, secara umum, tim BMKG-UGM juga sangat merekomendasikan agar warga terus menjaga kesehatan dan meningkatkan imunitas tubuh.

Dengan cara memanfaatkan kondisi cuaca untuk beraktivitas atau berolahraga pada jam yang tepat.

Khususnya pada bulan April hingga puncak musim kemarau di bulan Agustus mendatang.

Puncak kemarau tahun ini, diprediksi akan mencapai suhu rata-rata berkisar antara 28-32 derajat celcius, dan kelembaban udara antara 60%-80%.

BACA JUGA:  Perjuangan Jaksa di Depok untuk Indonesia Hebat Melawan Wabah Corona

“Kami juga merekomendasikan agar masyarakat lebih ketat menerapkan physical distancing dan pembatasan mobilitas orang ataupun dengan tetap tinggal di rumah.”

“Selain itu, disertai pula intervensi kesehatan masyarakat, sebagai upaya untuk memitigasi atau mengurangi penyebaran wabah COVID-19 secara lebih efektif.”

“Karena, cuaca yang sebenarnya menguntungkan ini tidak akan berarti optimal tanpa penerapan seluruh upaya pencegahan ini dengan lebih maksimal dan efektif,” tuturnya. (R003)

BACA JUGA: Kabar Baik, Peneliti UI dan IPB Temukan Kandidat Antivirus Corona

Related Articles

- Advertisement -

Latest Articles