oleh

Biomethagreen Pengolah Sampah, Tuntas dan Ramah Lingkungan

Ayo gunakan hak pilihmu!

TANJUNGSARI, ruber.id – Tingginya volume sampah sisa rumah tangga dewasa ini, jadi permasalahan kompleks yang dihadapi di berbagai daerah.

Khususnya di kota-kota besar. Jika tidak dikelola secara serius dan baik, volume sampah yang tidak terkendali ini, akan jadi ancaman serius bagi manusia. 

Selain mencemari lingkungan, karena menimbulkan bau busuk tak sedap. Tumpukkan sampah yang menggunung, akan berdampak buruk pada kondisi kesehatan manusia.

Berawal dari kerpihatinan akan permasalahan sampah yang dihadapi warga di lingkungannya, DR Muhamad Fatah Wiyatna, S. Pt, M. Si., membuat konsep pengelolaan sampah ramah lingkungan, juga ramah energi.

Bahkan, setelah melalui berbagai proses hingga proses penyempurnaan konsep ini, dosen Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran (Unpad) ini, mampu mengembangkan konsep pengelolaan sampah yang mampu menghasilkan energi listrik dan gas, ramah lingkungan.

“Konsep pengelolaan sampah ini, saya sebut Biomethagreen. Konsep ini, telah saya kembangkan dan diuji coba sejak tahun 2008.”

“Sebelumnya, pada 2007, di Fakultas Peternakan Unpad, dalam rangka program pengabdian masyarakat.”

“Saat itu, saya sedang riset pengelolaan limbah ternak,” ujarnya tahun Oktober 2016.

Saat itu, kata Kang Fatah, belum tren biogas selain dari kotoran sapi.

Karena, kata Kang Fatah, biogas dari kotoran sapi ini tidak praktis dan menimbulkan bau tidak sedap.

“Kemudian awal 2008, saya mulai melakukan riset untuk biodigester,” tuturnya.

Biodigester sendiri, kata Kang Fatah, merupakan sistem yang mempercepat pembusukan bahan organik.

Kang Fatah menyebutkan, dari proses ini akan terbentuk biogas, dan senyawa-senyawa lain.

Melalui pembusukan anaerob. Yaitu suatu bakteri fakultatif, yang dapat hidup dengan ataupun tanpa adanya oksigen.

“Konsepnya sederhana, mengelola sampah melalui teknologi yang praktis, tuntas, dan ramah lingkungan,” ucapnya.

Jadi, kata Kang Fatah, bahan baku berupa sampah organik ini diolah, dan dapat menghasilkan gas sebagai bahan bakar, hingga listrik yang ramah lingkungan.

“Bahkan, dapat menghasilkan pula pupuk organik yang bebas dari bahan kimia dan bermanfaat bagi tanaman, ikan, dan lainnya.”

“Tujuannya, agar sampah organik ini tidak menjadi limbah bagi lingkungan,” ucap pria kelahiran Subang, 23 Oktober 1969 ini.

Dari penelitian dan uji coba panjang ini, kata Kang Fatah, lahirlah konsep pengelolaan sampah biomethagreen.

Setelah konsep ini lahir, kata Kang Fatah, dimulai dari lingkungan rumahnya, ia berhasil mewujudkan lingkungan rumah yang bersih dengan pengelolaan sampahnya yang tuntas dan ramah lingkungan.

“Biomethagreen jadi solusi pengelolaan sampah yang tuntas, dan ramah lingkungan.”

“Juga mampu menghasilkan bahan bakar gas, dan energi listrik. Sehingga, kami tidak lagi merasa khawatir akan ketersediaan dua energi ini,” sebut suami dari Inna Samsuminar ini.

Kang Fatah menuturkan, bahan Slurry (limbah) yang berasal dari biodigester yang berupa cairan ini, menghasilkan pupuk organik yang tidak mengandung bakteri penyebab penyakit dan bahan berbahaya lainnya. 

Tetapi, kata Kang Fatah, justru memiliki nilai manfaat karena mengandung nutrisi, atau unsur hara.

“Unsur hara ini bermanfaat bagi tanaman, ikan, dan lainnya,” terang ayah dari Syifa Zahidah, Hamzah Zainul Muttaqin, dan Nizar Taqiudien ini.

Seiring waktu, kata Kang Fatah, konsep Biomethagreen ini ternyata mulai dilirik oleh banyak pihak.

Selain digunakan untuk pengelola sampah rumah tangga, Biomethagreen hasil karya Kang Fatah ini, saat ini juga banyak digunakan di perumahan, perkantoran.

Kemudian di pasar, rumah makan, hotel, peternakan, hingga rumah sakit di berbagai daerah di Indonesia.

“Saat ini, selain Unpad, mitra kami juga dari institusi pemerintahan, BUMD, BUMN, hingga perbankan,” urainya. 

Fatah menjelaskan, saat ini, biomethagreen banyak dimanfaatkan karena fungsinya.

Dan berkat kesadaran warga sendiri yang menginginkan lingkungannya bersih dari sampah, khususnya sampah organik.

“Saya berharap, konsep ini juga mampu memperpanjang umur dari tempat pembuangan sampah akhir (TPSA) di tiap daerah, di Indonesia khususnya,” katanya. (Arsip ruber.id)

loading...

Komentar