Terowongan Wilhelmina Pangandaran, Dikenal Angker Sejak Dibangun, Simpan Nilai Historis

Images
MUKA Terowongan Wilhelmina dipenuhi ilalang dan tampak angker karena sudah lama tak digunakan. dok ruber.id

PANGANDARAN, ruber.id – Terowongan Wilhelmina merupakan jalur kereta api Banjar-Cijulang peninggalan zaman Belanda.

Terowongan Wilhelmina dinobatkan sebagai terowongan terpanjang dan terindah dari 10 terowongan yang ada di Indonesia.

Hal ini karena pemandangan alam, mulai dari pegunungan dan pantai dapat terlihat jelas dari kereta api.

Data yang dihimpun dari sejumlah sumber, panjang terowongan ini mencapai 1208 meter.

Tepatnya berada di kilometer 82 jalur Kereta Api Banjar-Pangandaran.

Salah seorang saksi sejarah yang hidup di masa jalur KA Banjar- Cijulang masih aktif, Nene Rohaeti mengatakan, jalur ini dibangun penjajah Belanda oleh perusahaan kereta api Staats Spoorwegen.

“Terowongan ini dibangun pada tahun 1914 dan diresmikan pada tanggal 1 juni 1921,” katanya, kepada ruber.id, belum lama ini.

Baca juga:  Hari Raya Imlek dan Sejarah Perayaannya di Indonesia

BACA JUGA: Reaktivasi 4 Jalur Kereta Api di Selatan Jabar Pelik tapi Perlu, Ini Alasannya

Nama Wilhelmina sendiri, merupakan nama seorang ratu dari Kerajaan Belanda yang memiliki nama lengkap Wilhelmina Helena Pauline Maria.

“Wilhelmina Helena Pauline Maria merupakan Ratu Kerajaan Belanda pada tahun 1890-1948,” jelasnya.

Semula, kata dia, lokasi Terowongan Wilhelmina adalah perbukitan kapur yang berlokasi Desa Bagolo dan Desa Empak, Kecamatan Kalipucang, Pangandaran.

“Terowongan ini sangat angker, bahkan memiliki kisah misterius saat pembangunannya dilakukan,” ungkapnya.

Karena dinilai angker, kata dia, ketika membangun Terowongan Wilhelmina, pada tahun 1916, sempat terhenti karena tidak ada tenaga ahli yang mau bekerja.

Alasannya, kata dia, selain lokasinya sulit, banyak pekerja yang mengalami sakit hingga akhirnya meninggal secara tiba-tiba.

Baca juga:  Sejarah dan Latar Belakang Peringatan Hari Pers Nasional

“Saat itu perusahaan kereta api Belanda berusaha menyelesaikan pembangunan.”

“Karena jalur ini sangat penting untuk mengangkut hasil bumi seperti kopra, padi dan rempah,” jelasnya.

Pantauan ruber.id, saat ini, keberadaa terowongan Wilhelmina sangat memprihatinkan karena di sekeliling bangunan dipenuhi ilalang dan rumput liar yang tumbuh tidak beraturan.

Bahkan, rel kereta api di lokasi tersebut juga sudah banyak yang hilang.

Selain itu, muka terowongan yang tidak terurus dirambati akar semak belukar.

Hal ini membuat pamor dari bangunan bersejarah itu terkesan angker.

Jalur kereta api Banjar-Cijulang ini memang memiliki banyak jembatan dan 4 terowongan. Selain Terowongan Wilhelmina ini, juga ada Terowongan Batulawang sepanjang 281.5 meter.

Kemudian Terowongan Hendrik sepanjang 105 meter, dan Terowongan Juliana sepanjang 147.70 meter. (Dok ruber.id/Syam)

Baca juga:  Tiga Benteng Pengintai Zaman Jepang Ditemukan di Pantai Dadap Indramayu

BACA JUGA: Cerita di Balik Angkernya Terowongan Panyirapan Sumedang, Pegawai Proyek Ketakutan Lihat Tulang Belulang Manusia