Amazon dan PJI Bekali 400 Siswi SD-SMA Keterampilan AI, Gaming hingga Coding

Amazon dan PJI Bekali 400 Siswi SD-SMA Keterampilan AI, Gaming hingga Coding

News, ruber.id – Amazon dan Prestasi Junior Indonesia (PJI) menyelenggarakan Amazon Girls’ Tech Day untuk tahun keempat. Inisiatif pembelajaran global ini menginspirasi dan mempersiapkan anak perempuan untuk masa depan teknologi yang kompetitif.

Lebih dari 400 siswi dari 10 sekolah di Karawang dan Bekasi mengikuti kegiatan yang berlangsung pada 7 Februari ini. Amazon memperluas cakupan program dengan melibatkan siswi dari jenjang SD hingga SMA untuk pertama kalinya di Indonesia.

Selain itu, perluasan ini menjadi langkah strategis Amazon menumbuhkan minat talenta perempuan sejak usia dini. Transformasi digital berbasis AI semakin pesat sehingga membutuhkan kesiapan talenta perempuan yang handal.

Program ini menyajikan sesi inspiratif dari para pemimpin teknologi perempuan terkemuka. Mereka adalah Riris Marpaung dan Cecilia Astrid Maharani yang membagikan wawasan berharga kepada para peserta.

Sementara itu, lokakarya AI, gaming, robotika, dan coding juga hadir untuk membangun minat. Keterampilan ini sangat penting bagi para perempuan dalam menyambut masa depan yang serba teknologi.

Mendorong Perempuan dalam Ekosistem Teknologi

Menteri Komunikasi dan Digital Republik Indonesia, Meutya Hafid, mengapresiasi kolaborasi Amazon dan PJI. Kolaborasi ini sangat penting dalam menyiapkan talenta digital perempuan sejak usia dini.

“Di Kementerian Komunikasi dan Digital, target kami pada tahun 2030 adalah membangun 9 juta talenta digital,” ujar Meutya Hafid. “Angka tersebut masih belum cukup, dan kami akan meningkatkan target menjadi 12 juta pada 2030.”

Di sisi lain, Meutya Hafid meyakini bahwa pemerintah perlu mendorong perempuan muda, seperti peserta Girls’ Tech Day, untuk menjadi bagian talenta digital masa depan. “Kami ingin terus mendorong generasi muda dan yakin bahwa semakin banyak anak muda akan memahami manfaat teknologi,” jelasnya.

Baca juga:  KKN STAINU Tasikmalaya Bantu Kembangkan Diniyah Takmiliyah di Desa

Meutya Hafid menambahkan teknologi merupakan sumber pemberdayaan kuat bukan hanya bagi perempuan muda, tetapi juga bagi keluarga, komunitas, dan bangsa. “Kami akan memperluas makna 3T menjadi Terhubung, Tumbuh, dan Terjaga untuk mendukung mereka dan seluruh masyarakat Indonesia,” tambahnya.

Adopsi AI di Indonesia semakin pesat seiring transformasi dunia kerja. Laporan terbaru AWS dan Strand Partners menunjukkan lebih dari 18 juta pelaku usaha Indonesia telah mengadopsi AI.

Namun, 57% bisnis di Indonesia menghadapi tantangan kesenjangan keterampilan digital. Data ini menunjukkan pentingnya persiapan talenta digital sejak usia sekolah untuk mengisi kebutuhan industri.

Indonesia Regional Manager of Data Center Operations Amazon Web Services (AWS), Winu Adiarto, menekankan komitmen perusahaannya. “Amazon senantiasa berkomitmen untuk membantu membimbing dan melatih talenta generasi masa depan,” ujarnya.

Ia menambahkan Indonesia sedang mempersiapkan diri dalam proses adopsi AI, sehingga Amazon mengadaptasi program tahun ini. “Tujuan kami adalah untuk memicu minat dan membangun rasa percaya diri dalam hal teknologi, sembari membangun rasa percaya diri sejak dini,” jelas Winu Adiarto.

Winu Adiarto berharap Amazon Girls’ Tech Day memastikan anak perempuan memiliki kesempatan yang sama. Kesempatan itu adalah untuk memahami, menciptakan, dan memimpin di era AI.

Baca juga:  Rusak Sandal Siswa, Kemenag Pangandaran Sebut Oknum Guru MTs Tak Mendidik

Para peserta telah mengikuti rangkaian workshop sesuai usia mereka. Workshop mulai dari perkenalan AI dan coding dasar hingga pengembangan game dan robotik untuk pemula.

Pendekatan berbasis proyek ini mendorong siswi memahami konsep teknologi. Mereka mengembangkan cara berpikir luas, menyelesaikan masalah, dan kerja sama kolaboratif.

Sementara itu, Direktur Eksekutif Prestasi Junior Indonesia, Utami Anita Herawati, menekankan intervensi sejak usia SD. Intervensi ini penting untuk menjawab kesenjangan gender di sektor teknologi.

“Melalui kolaborasi dengan AWS di Amazon Girls’ Tech Day 2026, kami ingin menyiapkan talenta digital perempuan sejak dini,” ujar Utami Anita Herawati. Ia menambahkan bahwa bidang AI, gaming, dan teknologi canggih kerap dipersepsikan sebagai ranah laki-laki.

“Karena itu, kami ingin mematahkan stereotip tersebut dengan memberikan pengalaman nyata dan relevan bagi siswi dari SD hingga SMA,” katanya.

Utami Anita Herawati berharap pendekatan komprehensif ini menumbuhkan minat, kepercayaan diri, dan aspirasi karier jangka panjang anak perempuan di dunia teknologi.

Di sisi lain, VP Data & AI di Mekari, Cecilia Astrid Maharani, menyoroti rendahnya angka perempuan yang memilih teknologi sebagai karier.

“Saat ini kurang dari 5% perempuan menjadikan teknologi sebagai pilihan karier utama mereka,” ujarnya.

Ia juga menekankan tidak ada batasan bagi perempuan untuk terlibat di dunia teknologi.

“Keberagaman perspektif sangat penting untuk inovasi yang bermakna, dan menjadi tanggung jawab kita untuk terus meningkatkan standar di industri ini,” kata Cecilia Astrid Maharani.

Baca juga:  Edukasi Pelajar Pentingnya Keselamatan Diri, Basarnas Bandung Simulasi Pertolongan di SMK Tamansiswa Bandung

Riris Marpaung, CEO dan Founder GameChanger Studio sekaligus Co-Founder Indonesia Women in Game, mengapresiasi upaya ini.

“Saya sangat mengapresiasi upaya Amazon dan Prestasi Junior Indonesia dalam mengenalkan profesi ini kepada pelajar SMA,” ujarnya.

Ia menyoroti bahwa karya game buatan talenta Indonesia semakin diakui di pasar global dan meraih penghargaan internasional.

“Dunia gaming kini tidak hanya dipandang sebagai hiburan tetapi juga sebagai sarana untuk mengembangkan berbagai keterampilan pribadi seperti komunikasi, empati, dan kepemimpinan,” jelas Riris Marpaung.

Riris Marpaung berharap para pelajar melihat sektor gaming dan teknologi sebagai ruang untuk belajar dan berkarya. Mereka harus merasa percaya diri menjadikannya pilihan karier yang menjanjikan di masa depan.

Sementara itu, Kepala Sekolah PKBM Baitul Hasanah Cikarang, Abdullah Mukhlis, mengapresiasi program ini. “Girls’ Tech Day memberikan pengalaman belajar yang sangat bermakna dan kaya bagi anak-anak kami,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa program ini khususnya membangun kepercayaan diri, kemampuan berpikir kritis, serta keterampilan bekerja dalam tim. “Kami bangga melihat mereka membuktikan keterbatasan bukanlah hambatan untuk berprestasi dan berkembang,” kata Abdullah Mukhlis.

Melalui kolaborasi berkelanjutan, AWS dan PJI berkomitmen menciptakan jalur inklusif. Mereka ingin semakin banyak anak perempuan berani bermimpi, belajar, dan berkarya di bidang teknologi.

Secara global, Amazon menargetkan dapat menjangkau lebih dari satu juta anak perempuan dan perempuan muda hingga tahun 2030.