22.4 C
Indonesia
Selasa, Oktober 26, 2021
BJB KPRBJB KPRBJB KPR

Ini Pengertian Soal Megathrust yang Benar

BERITA NASIONAL, ruber.id – Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika atau BMKG mendeteksi banyaknya kesalahpahaman soal pengertian megathrust.

Kepala Bidang Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Daryono mengatakan, perbincangan mengenai gempa megathrust membuat beberapa ahli kebumian bertanya-tanya.

“Apakah masyarakat sudah paham soal pengertian megathrust? Ternyata masih banyak yang belum tepat memahaminya,” kata Daryono seperti dilansir ruber.id dari laman detikcom.

Istilah megathrust memang sering sekali menempel dengan istilah gempa. Dua hal itu memang berhubungan. Namun, terkadang megathrust malah diartikan sebagai gempa besar, padahal bukan.

“Gempa megathrust dipahami sebagai sesuatu yang baru dan segera akan terjadi dalam waktu dekat. Berkekuatan sangat besar dan menimbulkan kerusakan atau tsunami dahsyat. Ini kurang tepat,” ujarnya.

Terbaru, ilmuwan dari Institut Teknologi Bandung (ITB) mengungkap potensi tsunami di selatan Pulau Jawa setinggi 20 meter. Tsunami itu terjadi bila ada gempa besar di kawasan megathrust.

BACA JUGA:  Semoga Aman, Gempa Susulan Terus Terjadi di Timur Laut Labuha Malut

Apa itu zona megathrust?

Zona megathrust adalah istilah untuk menyebut jalur subduksi lempeng bumi yang sangat panjang, tapi relatif dangkal.

Di sini, ada kata ‘mega’ berarti ‘besar’. Kata ‘thrust’ berarti ‘dorongan’. Lempeng bumi digambarkan menumpuk, lempeng di bawah mendorong lempeng di atasnya.

“Dalam perkembangannya, zona subduksi diasumsikan sebagai ‘patahan naik yang besar’, yang kini populer disebut sebagai zona megathrust,” tuturnya.

Zona megathrust sebenarnya sekadar istilah untuk menyebutkan sumber gempa tumbukan lempeng di kedalaman dangkal.

Dalam hal ini, lempeng samudra yang menunjam ke bawah lempeng benua membentuk medan tegangan (stress). Pada bidang kontak antarlempeng yang kemudian dapat bergeser secara tiba-tiba memicu gempa.

Jika terjadi gempa, bagian lempeng benua yang berada di atas lempeng samudra bergerak terdorong naik (thrusting).

“Zona megathrust bukanlah hal baru. Di Indonesia, zona sumber gempa ini sudah ada sejak jutaan tahun lalu saat terbentuknya rangkaian busur kepulauan Indonesia,” ucapnya.

BACA JUGA:  Gempa Tasikmalaya, Dirasakan Warga Pangandaran dan Garut

Megathrust memang bukan gempa, namun lokasi megathrust bisa menjadi sumber gempa bila lempeng-lempeng bumi itu bergerak. Gempa dalam skala besar di laut kemudian memicu tsunami.

Segmen zona megathrust di Indonesia sudah dapat dikenali potensinya. Ada tiga zona megathrust di zona subduksi aktif, yakni:

  1. Subduksi Sunda mencakup Sumatera, Jawa, Bali, Lombok, dan Sumba.
  2. Subduksi Banda.
  3. Subduksi Lempeng Laut Maluku.
  4. Subduksi Sulawesi.
  5. Subduksi Lempeng Laut Filipina. Subduksi Utara Papua.

Di Selatan Jawa

Dalam buku Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia tahun 2017 disebutkan, bahwa di Samudra Hindia selatan Jawa terdapat 3 segmentasi megathrust, yaitu:
(1) Segmen Jawa Timur.
(2) Segmen Jawa Tengah-Jawa Barat.
(3) Segmen Banten-Selat Sunda.

Ketiga segmen megathrust ini memiliki magnitudo tertarget M 8.7. Artinya, zona megathrust menyimpan potensi gempa besar.

BACA JUGA:  Potensi Tinggi Tsunami 3 Meter, Warga di Wilayah Ini Diminta Waspada

“Jika skenario model dibuat dengan asumsi 2 segmen megathrust yang ‘bergerak’ secara simultan, maka magnitudo gempa yang dihasilkan bisa lebih besar dari 8.7,” sebutnya.

Namun itu hanyalah kemungkinan terburuk. Bisa pula itu tidak terjadi. Kalaupun terjadi, entah kapan, belum ada sains yang mampu memprediksi akurat soal kapan terjadinya gempa.

Hasil monitoring BMKG, kata Daryono, menunjukkan bahwa zona megathrust
selatan Jawa memang sangat aktif yang tampak dalam peta aktivitas kegempaannya (seismisitas).

Namun gempa di zona megathrust juga tidak selalu gempa besar. Di selatan Jawa bahkan belum ada catatan mengenai gempa lebih dari M 9.00 hingga saat ini.

“Justru ‘gempa kecil’ yang lebih banyak terjadi di zona megathrust, meskipun zona megathrust dapat memicu gempa besar,” terangnya. (R002/dede ihsan)

BACA JUGA: BPBD Pangandaran Sikapi Pemberitaan Gelombang Tsunami 20 Meter

Related Articles

- Advertisement -

Latest Articles