Sejarah Tradisi Mudik di Indonesia, Beda Budaya Beda Istilah

Sejarah Tradisi Mudik di Indonesia, Beda Budaya Beda Istilah
Foto ilustrasi from Pexels Istockphoto

KOPI PAGI, ruber.idPulang ke kampung halaman atau mudik kini sudah menjadi tradisi di setiap Hari Raya Idul Fitri.

Momentum ini dimanfaatkan untuk melepas rindu dengan keluarga tercinta, kerabat, sahabat maupun tetangga dekat.

Kini, setelah dua tahun pandemi Covid-19, tahun ini pemerintah memperbolehkan kembali masyarakat melakukan mudik Lebaran. Tampak para pemudik memadati berbagai daerah.

Lalu, dari mana asal-muasal atau sejarah tradisi mudik di Indonesia?

Sudah Ada sejak Zaman Kerajaan

Sebagaimana dikutip dari Kompascom, mudik sebenarnya sudah ada sejak zaman kerajaan.

Dosen Sejarah Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, Silverio Raden Lilik Aji Sampurno mengatakan, kebiasaan mudik dimulai sejak zaman Majapahit dan Mataram Islam.

“Awalnya, mudik tidak diketahui kapan. Tetapi ada yang menyebutkan sejak zaman Majapahit dan Mataram Islam,” kata Silverio.

Dikisahkan, dahulu wilayah kekuasaan Majapahit begitu luas hingga ke Sri Lanka dan Semenanjung Malaya.

Baca juga:  Mengenal Candi Blandongan, Situs Peninggalan Kerajaan Tarumanagara di Karawang

Kerajaan Majapahit pun, menempatkan para pejabatnya di titik-titik kekuasaan mereka.

Hingga pada suatu ketika, pejabat tersebut akan kembali ke pusat kerajaan untuk menghadapi raja dan mengunjungi kampung halaman.

Kebiasaan ini lantas dikaitkan dengan lahirnya fenomena mudik.

“Selain berawal dari Majapahit, mudik juga dilakukan oleh pejabat dari Mataram Islam yang berjaga di daerah kekuasaan. Terutama mereka balik menghadap Raja pada Idul Fitri,” kata Silverio.

Dilansir dari pemberitaan Historiaid, 9 Mei 2021, tradisi mudik juga ada pada awal masa kemerdekaan Indonesia.

“Kala itu, banyak masyarakat yang berbondong-bondong merantau ke Jakarta lantaran fokus pembangunan ada di ibu kota negara,” ujar Dosen Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) Yuanda Zara.

Setelah beberapa tahun tinggal, para pendatang itu rindu pada kampung halaman mereka.

Baca juga:  Jelang Puncak Arus Mudik, Polisi Tambah Kekuatan di 6 Titik Rawan Macet di Jalur Selatan Ciamis

Berangkat dari situ, muncul fenomena pulang ke kampung halaman secara massal dari para pekerja di Jakarta.

Melihat fenomena ini, pemerintah pun memberikan perhatian serius.

Pada tahun 1960-an jalur-jalur kereta api dari masa kolonial kembali dihidupkan di seluruh wilayah untuk memudahkan warga pulang ke kampung halaman.

Seiring perkembangannya, mudik juga dilakukan dengan moda transportasi bus, kapal, pesawat, bahkan mulai tahun 1980-an orang banyak mudik menggunakan kendaraan pribadi.

“Sampailah ke era sekarang yang kita lihat tadi itu telah berlangsung sekitar 70 tahun dalam skala yang besar, kalau sebelumnya hanya skala personal,” kata Yuanda.

Beda Budaya, Beda Istilah

Walaupun sudah menjadi tradisi sejak lama, istilah “mudik” baru populer di tahun 1970-an.

Menurut Silverio, sejak saat itu mudik dikenal sebagai tradisi yang dilakukan oleh perantau untuk kembali ke kampung halamannya dan berkumpul bersama keluarga, khususnya ketika Lebaran.

Baca juga:  Pemudik Mulai Lewati Garut, Lalu Lintas Lancar

Sementara, menurut Yuanda Zara, istilah mudik mulai banyak digunakan di tahun 1980-an.

Sebelum itu, masyarakat umumnya menggunakan istilah “pulang kampung”, “bersilaturahmi dengan keluarga besar”, “halal bi halal dengan keluarga di daerah”, dan sebagainya.

Masyarakat Jawa

Untuk masyarakat Jawa, “mudik” diartikan sebagai mulih dhisik atau pulang dulu.

“Mudik menurut orang Jawa itu kan dari kata mulih dhisik yang bisa diartikan pulang dulu. Hanya sebentar untuk melihat keluarga setelah mereka menggelandang (merantau),” kata Silverio.

Masyarakat Betawi

Sementara masyarakat Betawi mengartikan mudik sebagai “kembali ke udik”. Dalam bahasa Betawi, “udik” berarti kampung.

Saat orang Jawa hendak pulang ke kampung halaman, orang Betawi menyebut “mereka akan kembali ke udik”.

Akhirnya, istilah ini mengalami penyederhanaan dari “udik” menjadi “mudik”.