Sanksi Amerika dan Sekutu Dibalas Rusia dengan Pembekuan Aset Asing

Rusia Bekukan Aset Asing
Presiden Rusia Vladimir Putin. Foto from Pixabay

BERITA INTERNASIONAL, ruber.id – Perang Rusia vs Ukraina dan sekutunya semakin memanas. Tak hanya ‘baku hantam’ di darat, air, maupun udara.

Kedua kubu sudah melancarkan serangan, yang lebih dahsyat lagi.

Seluruh sendi kehidupan warga Rusia termasuk aset luar negeri, kerjasama bisnis dan perdagangan.

Semua dibekukan oleh Amerika Serikat dan pendukung Ukraina, termasuk Jerman dan Inggris.

Kremlin Bekukan Aset Asing

Pemerintah Rusia, tidak tinggal diam dengan sanksi tersebut.

Presiden Vladimir Putin sudah melancarkan aksi balas dendam, dengan kembali mengambil alih aset perusahaan asing yang meninggalkan Negeri Beruang Merah itu.

Menurut Putin, dalam video yang disiarkan oleh media Rusia, seperti dilansir dari CNN Internasional, Jumat (11/3/2022), pihaknya akan bertindak tegas kepada mereka yang menghentikan produksi di Rusia.

Baca juga:  Negara di Asia Tenggara Mulai Ikut Campur Perang Rusia-Ukraina

Perusahaan yang ingin berhenti, asetnya akan dialihkan ke perusahaan yang ingin melanjutkan pengoperasiannya dan loyal terhadap Kremlin.

Perdana Menteri Rusia Mikhail Mishustin segera menyusun undang-undang agar langkah ini bisa cepat dilaksanakan.

“Akan ada pemberlakuan administrasi eksternal jika perusahaan asing tutup mendadak. Semua terserah pemilik untuk menentukan nasib perusahaannya,” kata Mishustin.

Seluruh barang impor juga akan disita, tidak boleh dipindahkan ke negara lain oleh perusahaan yang menerima impor maupun yang mengimpor.

Dalam hal ini, Kremlin lebih gercep dan sudah mengeluarkan daftar barang serta peralatannya.

Bahkan media Rusia Izvestiya melaporkan, perusahaan yang angkat kaki dari negara itu bisa diambil alih oleh pemerintahan Putin. Sebagaimana catatan dari organisasi hak-hak konsumen Rusia.

Baca juga:  Viral, Polisi Ini Tilang Pengemudi Wanita karena "Terlalu Cantik"

Semua dilakukan pemerintahan Putin agar bisa mempertahankan kegiatan usaha, organisasi dan pekerjaannya.

“Para pengelola bisnis banyak yang merilis pemberhentian sementara. Meski demikian, mereka tetap mempertahankan para pekerjanya serta mengupayakan upahnya. Ini yang akan kita pantau secara serius,” ujar Mishutin lagi.

Sebelumnya diberitakan, sekitar 50 lebih perusahaan besar skala Internasional.

Seperti Coca Cola, Apple, Microsoft, dan sebagainya, menarik diri dari Kremlin, sepekan setelah invasi negara itu ke Ukraina.

Toko dan pabrik, seluruhnya ditangguhkan pengoperasiannya sampai waktu yang tidak ditentukan.

Penulis: Ardini Maharani DS/Editor: Bam