OLEH: *) RAHMAT JULIADI

IRONIS, di tengah gebyarnya dan meriahnya peringatan tahun baru Islam 1 Muharam 1441 Hijriah.

Juga di tengah gencarnya Kabupaten Sumedang untuk mewujudkan Sumedang yang agamais, sebagai bagian dari visi Sumedang Simpati, malam tadi, Sabtu (31/8/2019). Satpol PP Kabupaten Sumedang merazia dan mengamankan 24 pasangan mesum yang bukan muhrim dari 6 hotel yang ada di sekitar Sumedang.

Melihat jumlah pasangan mesum yang terjaring razia ini, cukup mengagetkan, dan bisa jadi ini adalah fenomena gunung es.

Di mana, kondisi yang sesungguhnya jauh lebih banyak dari itu. Karena disinyalir, masih banyak tempat-tempat yang biasa dipakai untuk itu. Seperti indekos ataupun tempat hiburan seperti karaoke.

TONTON VIDEO OPERASI ANTI PEKAT PENGGEREBEKAN 24 PASANGAN MESUM DI SUMEDANG, KLIK: [ruberTV] Satpol PP Sumedang Amankan 24 Pasangan Bukan Muhrim di 6 Hotel

Hal ini, sangat memprihatikan dan mencoreng program Pemkab Sumedang yang sedang menggencarkan program-program untuk menuju Sumedang agamais.

Di mana selalu di-support oleh Bupati Sumedang Dony Ahmad Munir. Seperti, program salat subuh berjamaah, program magrib mengaji, program menghentikan semua aktivitas saat azan, dan dilajutkan salat berjamaah.

Bahkan, di saat yang sama dengan pelaksanaan razia tersebut, bupati sedang me-launching program Gerakan Cerdas Eksotik. Yaitu gerakan ekspresif, saleh, beretika. Sehingga hal ini sungguh sangat ironis.

Di lain pihak, saya sangat mengapresiasi kinerja Satpol PP Kabupaten Sumedang di bawah pimpinan Plt Kasatpol PP Sumedang Deni Hanafiah, yang sangat sigap dan disiplin untuk menjaga ketertiban dan memberantas penyakit masyarakat di Sumedang.

Meskipun demikian, saya kurang sependapat kalau para pasangan mesun tersebut hanya membuat pernyataan dan konseling saja.

Tetapi, seharusnya ada punishment yang tegas, yang akan menimbulkan efek jera kepada para pelaku.

Termasuk bupati dan SOPD terkait untuk memanggil dan memperingatkan para pemilik hotel-hotel tempat pasangan mesum itu terciduk, untuk selektif dalam dalan menerima tamunya.

Bahkan, bupati bisa mendorong untuk menghadirkan hotel atau penginapan yang bernuansa Islami kalau memang komitmen dengan visi Sumedang Simpati.

Saya berharap, dengan kejadian ini bisa menjadi bahan instrospeksi bagi semua pihak.

Semua stakeholder, harus bisa membil peran sesuai tugasnya masing-masing.

Para ulama, ustaz dan tokoh masyarakat dalam membina dan membimbing masyarakat, para orang tua dan guru dalam mengawasi pergaulan anak-anaknya, serta DPRD dalam menbuat peraturan daerah, penganggaran dan pengawalannya.

Dan tentunya, yang paling utama adalah peran pemerintah daerah dalam hal ini bupati dan sekda dalam mengawasi kinerja para aparaturnya.

Sehingga, dengan bersinerginya semua pihak visi Sumedang Simpati dapat diwujudkan. (*)

*) Penulis:
Drg. H Rahmat Juliadi, M.H. Kes;
Politisi PKS; anggota DPRD Sumedang periode 2019-2004, dapil 6 Sumedang.