PANGANDARAN, ruber — Harga hasil bumi produksi petani di Kabupaten Pangandaran, belum stabil.

Untuk itu, Dinas Pertanian Kabupaten Pangandaran akan mendirikan koperasi dan Badan Usaha Milik Petani (BUMP).

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Pangandaran Sutriaman mengatakan, potensi hasil bumi di Kabupaten Pangandaran tergolong maksimal.

“Minat petani di Kabupaten Pangandaran melakukan budidaya dan bercocok tanam sudah baik. Namun, hasil produksi belum bisa menjadi tumpuan ekonomi,” katanya kepada ruber, Jumat (12/7/2019).

Sutriaman menambahkan, agar proses budidaya dan bercocok tanam petani hasilnya seimbang, harus dilakukan upaya pemasaran produk agar petani tidak merugi.

“Saat ini hasil bumi di Pangandaran hanya bisa untuk memenuhi konsumsi kebutuhan pangan keluarga saja,” tambahnya.

Sutriaman menjelaskan, kondisi saat ini, pemasaran hasil bumi dari petani di Pangandaran juga kerap dimonopoli oleh oknum yang tidak bertanggungjawab dengan cara memainkan harga di pasaran.

“Untuk menyelamatkan nasib petani atas aktivitas jual beli hasil bumi, maka harus ada pola ekonomi kerakyatan dengan cara membentuk koperasi dan BUMP,” jelasnya.

Dengan dibentuknya koperasi dan BUMP, diharapkan bisa memutus rantai monopoli pasar hasil bumi. Sehingga, harga tetap stabil dan petani tidak dirugikan.

“Potensi hasil bumi yang saat ini sudah menjadi khas masyarakat Pangandaran di antaranya kelapa, kopi, manggis, buah pala, cengkeh dan kapol,” ucapnya.

Untuk buah kelapa, di Pangandaran kandungan dan kualitasnya bagus. Namun, belum bisa masuk pada bahan baku produksi pabrikan.

“Kendala kelapa di Kabupaten Pangandaran belum bisa menjadi bahan baku pabrikan karena ukurannya kecil, sedangkan alat produksi pengupas kelapa ukurannya besar,” terangnya.

Sutriaman menambahkan, untuk, kopi, manggis, buah pala, cengkeh dan kapol sudah diminati oleh sejumlah pabrikan besar dan potensi ekspornya sangat potensial. smf

loading…