OLEH: Annisa Nurjannah

ANGIN bertiup lamban. Malam berjalan semakin larut. Tak terlihat lagi lalu lalang orang di jalanan.

Hanya kami berempat di dekat rumah tua. Sesekali suara burung hantu dan lolongan anjing terdengar membuat bulu kuduk berdiri.

Kalau saja bukan karena mencari Joe, sahabat kami yang menghilang dan mendapati sebuah surat darinya dalam buku itu, aku tak ingin pergi ke tempat aneh yang ada dalam buku baruku itu.

“Aku baru tau kalau rumah di buku itu memang nyata!” ungkap Tomy menunjuk sebuah rumah di depannya yang tampak tak terurus lagi.

Cat temboknya terkelupas, sebagian warnanya berubah menghitam yang lainnya tertutup tumbuhan merambat dan lumut.

“Aku juga gak ngerti.” ujarku menatap mereka yang lalu terdiam. “Siap?” tanyaku yang segera membuka pintu rumah itu. Mereka mengangguk lalu menarik napas berat.

Baca cerita selengkapnya, klik zonamuda.ruber.id. (*)

loading…