DALAM dunia pendidikan, formal maupun nonformal ada beberapa karakteristik dalam membicarakan proses pendidikan yang mengarahkan pelajar ke berbagai keterampilan. Begitupun pendidikan  yang mengarahkan pelajar untuk memperdalam jiwa kepemimpinan seperti halnya di pendidikan Pramuka. 

Dalam hal ini tentu IPNU/IPPNU Jatinangor harus menuangkan kreativitasnya di segala bidang tanpa mengurangi norma organisasi yang berhaluan ahlisunan waljamaah an-nahdyiyah.

Edukasi karya aksara adalah salah satu keinginan bersama, harapan yang bisa dibuktikan dengan karya dalam bidang literasi, bahasa/sastra. Dan sebagai organisasi di tingkat pelajar IPNU/IPPNU harus mampu menjembatani kader-kadernya sesuai dengan kemampuan masing-masing kader khususnya di bidang tulis-menulis.

Jatinangor sebagai daerah yang didominasi oleh institusi pendidikan tentu harus mempunyai ciri khusus dalam mengembangkan nalar pengetahuan yang kemudian dapat di ejawantahkan lewat tulisan, artikel pelajar, puisi yang bertujuan untuk menambah kecintaan pelajar pada dunia literasi. 

Lewat program kerja organinasi atau kegiatan rutin yang biasa di lakukan rekan-rekanita  IPNU/IPPNU jatinangor mudah-mudah bisa melakukan proses pendidikan organinasi  dengan baik. Dan apa yang menjadi tujuan oganisasi bisa terwujud.

Lewat tulisan sederhana ini semoga menjadi semangat ke depannya untuk giat melakukan proses tulis menulis, karena mau tidak mau sebagai bagian dari organisasi, saya harus berpikir cerdas untuk memberikan stimulus pengetahuan dan keterampilan kepada anggota dan kader-kader IPNU/IPPNU.

Begitupun teman-teman pengurus yang duduk di bidangnya masing-masing, mudah-mudah bisa berkerja sama dalam memulai proses pendidikan dan keterampilan di tingkat pelajar.

Kritis melalui menulis
Pendidikan kritis yang dimulai dengan kesadaran kritis Paulo Preire, merupakan kebutuhan intelektual sebagai pisau analisis disiplin ilmu khususnya di tingkat pelajar SMP/SMA yang harus di siapkan sejak dini untuk kemudian pelajar siap membaca keadaan di lingkungan sekitar. 

Dan untuk kasus pendidikan hari ini, jarang kiranya guru yang mendidik muridnya untuk kritis. Malah mendidik murid harus disiplin, patuh, dan tugas yang harus dikerjakan tanpa mengetahui substansinya. 

Pendidikan kritis akan muncul ketika tidak ada perangkat lain yang mengekang. Maka dari itu, pendidikan di luar sekolah harus dimanfaatkan dengan benar. Agar selama metode belajar yang diatur oleh negara tidak dapat membuat pendidikan Indonesia maju murid bisa menilai sendiri dan mengetahui secara umum titik permasalahan kemandegan pendidikan.

Dan media menulis merupakan pendidikan kritis bagi tiap orang yang mampu mengeluarkan apa yang ada dalam benaknya. Bisa itu kekecewaan, perasaan, gagasan dan lainnya. 

Jika meminjam istilahnya Pramudya Ananta Toer, bahwa Dengan Menulis Aku Bebas selaras dengan hakikat pendidikan yang dikatakan oleh Paulo Preire bahwa tujuan pendidikan adalah untuk membebaskan manusia dari belengku penjajahan. Yaitu, pendidikan yang memanusiakan manusia.



 

Maka dari itu, organisasi yang menampung banyak aspirasi, sumbangsih gagasan, tenaga dan pikiran serta tujuan yang jelas harus komitmen dalam menjalankan peranannya demi kemajuan bangsa dan agama.

Kembali ke persoalan pendidikan, yang membicarakan proses membangun dan mengembangkan potensi anak bangsa yang berkarakter dan terampil. Adapun yang aku tawarkan adalah bagaimana kemudian murid diarahkan untuk minimal membaca buku 15 menit selama satu hari, buku apapun itu. 

Sesuai yang murid mau! Setelah itu, bagaimana kemudian hasil bacaannya dicurahkan lewat belajar menulis untuk membantu daya ingat pemahaman isi dari apa yang mereka sudah baca.

Dalam obrolanku bersama Ketua PAC IPNU Jatinangor sahabat Yusup Saeful Hidayat, di salah satu tempat ngopi di lingkungan kampus Unpad. Dia meminta saran dan masukan ke orang-orang yang kebetulan ada di sana waktu itu, termasuk Aku! dan Aku mencoba menawarkan saran, kritik otokritik yang tertuang dalam suasana yang damai.

Aku mengatakan bahwa “Selama kita mengadopsi pendidikan kritis, paradigma kita kemungkinan besar akan berpandangan bahwa pendidikan tidak hanya kepentingan negara untuk mencerdaskan anak bangsa saja, tapi akan lebih luas, lebih sekedar dari acara seremonial saja. Karena pendidikan juga sebagai kesadaran lingkungan, budaya, kemanusiaan, ketuhanan dan banyak lainnya." 

Itulah mengapa pendidikan kritis harus ditanamkan sejak dini. Sebagai organisasi pelajar terbesar di Jatinangor, IPNU/IPPNU Jatinangor yang dimotori oleh sahabat Yusup Saeful Hidayat (Ketua PAC IPNU Jatinangor dan rEkanita Isty Nurlaelilatifah (Ketua PAC IPPNU Jatinangor) semoga apa yang sering dikatakan banyak orang, bahwa Jatinangor adalah kota pendidikan bisa seimbang dengan kualitas nalar pengetahuannya.

Karena kuantitas harus berbanding lurus dengaan kualitas. Demi kemajuan pelajar NU dan pelajar se Nusantara perlu kita sadari bahwa organisasi adalah manifesto perubahan yang nyata jika dijalankan dengan ikhlas dan benar. 

"Selama toko buku ada, selama itu pula peradaban bisa dibanggun kembali." begitu kata Tan Malaka.

Mulailah gemar membaca dan menulis sebagai waktu luang yang sangat kaya.

Wallahul muwafiq ilaa aqwamithariq. (*)