19.4 C
Indonesia
Rabu, September 22, 2021
spot_img

Jadi Saksi, Sekda Jabar Bantah Terima Rp1 M dari Meikarta

BANDUNG, ruber — Sidang kasus suap Meikarta yang digelar di Pengadilan Negeri Bandung, Kota Bandung kembali dilanjutkan, Senin (28/1/2019). Sidang kali ini menghadirkan Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Jawa Barat, Iwa Karniwa.

BACA JUGA: AJI Sesalkan Keputusan Presiden Jokowi Beri Grasi Pembunuh Wartawan

Melansir dari laman liputan6.com, dalam persidangan terungkap, Iwa mengaku tak pernah meminta dan menerima suap dari Meikarta.

Mulanya, Iwa ditanya JPU KPK I Wayan Ryana soal pertemuannya dengan Kepala Bidang Penataan Ruang Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Kabupaten Bekasi Neneng Rahmi Nurlaili di KM 72 tol Purbaleunyi pada Desember 2017.

Iwa pun membenarkan pertemuan tersebut. Namun dirinya diminta oleh anggota DPRD Jabar Waras Wasisto untuk datang, dan akhirnya dikenalkan dengan Neneng Rahmi.

“Saya tidak tahu (tujuannya) hanya diminta ketemu di rest area KM 72. Saya bilang kebetulan baru hadir rapat di pusat. Saya dikontak Pak Waras, ada yang minta ketemu saya. Saya bilang di kantor saja selesai saya pulang ke rumah,” ujar Iwa.

BACA JUGA:  Pemprov Jabar akan Kembangkan Tahura Jadi BLUD
BACA JUGA:  Suap Meikarta, Eks Sekda Jabar Jalani Sidang Perdana

Jaksa menyebut, pertemuan tersebut diketahui untuk membahas terkait pengurusan Raperda Rencana Detil Tata Ruang (RDTR) proyek Meikarta.

“Iya atas permintaan Waras bertemu. Saya bilang di kantor saja. Saya sudah tidak ikut karena tidak ada kewenangan,” kata Iwa.

Jaksa lalu menanyakan apakah ia meminta sejumlah uang ke Neneng Rahmi untuk pengurusan RDTR, Iwa membantahnya. JPU KPK lainnya, Yadyn kemudian menanyakan apakah Waras merupakan atasannya. Iwa kembali membantahnya.

Menurutnya, Waras merupakan anggota DPRD Jabar. Dirinya hadir untuk menjaga silaturahmi dan bukan dalam urusan kerja.

“Kalau (Waras) bukan atasan, katanya. Lalu kenapa datang ke sana?,” tanya Yadyn lagi.

“Saya pulang kerja. Karena untuk menjaga hubungan dengan DPRD,” ujar Iwa.

BACA JUGA:  Suap Meikarta, Eks Sekda Jabar Jalani Sidang Perdana

Selain itu Iwa menyebut pertemuan di KM 72 hanya sebentar. Karena untuk urusan pekerjaan, Iwa lebih memilih bertemu di kantor. Makanya, saat itu Iwa mengaku meminta mereka Neneng untuk ke kantornya.

BACA JUGA:  Suap Meikarta, Eks Sekda Jabar Jalani Sidang Perdana

Yadyn pun kemudian membacakan Berita Acara Pemeriksaan (BAP) Iwa sebagai saksi di penyidik KPK. Dalam BAP tersebut Iwa mengaku pada Desember 2017 bertemu dengan Waras, Neneng Rahmi, Sulaiman anggota DPRD Bekasi dan seorang laki-laki tidak dikenal di Starbuck Coffe di KM 72 Tol Purbaleunyi. Saat itu Waras minta bertemu terkait urusan dinas.

“Kalau memang ingin tertib administrasi kenapa tidak datang ke kantor. Kenapa ketemuannya di sana (KM 72). Kenapa sekonyong-konyong saksi ada di sana,” tanya Yadyn.

BACA JUGA:  Pemprov Jabar akan Kembangkan Tahura Jadi BLUD

Ditanya seperti itu Iwa hanya terdiam. Sementara soal pertemuan di kantornya, mereka (Neneng) mau mengurus soal Raperda RDTR.

Saat itu dirinya mengaku tidak punya kewenangan, karena itu urusan gubernur dan bisa langsung menghubungi sekretariat Badan Koordinasi Penataan Ruang Daerah (BKPRD).

“Saat itu mereka ingin tahu prosedur (RDTR). Tapi saya tidak bisa bantu karena saya bukan ketua BKPRD,” tegas Iwa.

“Kalau ingin mengetahui prosedur bisa ke bawahan saudara? Saudara tahu tidak soal permintaan Rp1 miliar?” tanya Yadyn. Iwa pun kembali membantahnya.

BACA JUGA:  Pemprov Jabar akan Kembangkan Tahura Jadi BLUD

Klik disini untuk berita lengkapnya. red

loading…


Related Articles

- Advertisement -

Latest Articles