Kronologi Mutilasi Sadis Wanita ASN Asal Bandung

Kronologi Mutilasi Sadis Wanita ASN Asal Bandung

BERITA NASIONAL, ruber.idKasus pembunuhan dengan cara mutilasi sadis berhasil polisi ungkap.

Pengungkapan ini bermula saat warga Dusun Plandi, Desa Watuagung, Kecamatan Tambak, Kabupaten Banyumas. Jawa Tengah, heboh dengan adanya temuan berupa potongan tubuh manusia dalam kondisi hangus, Senin (8/7/2019) petang.

Setelah melewati serangkaian penyelidikan, polisi akhirnya berhasil mengungkap dan menangkap Deni Prianto.

Polisi menangkap warga Desa Gumelem Wetan, Kecamatan Susukan, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah ini. Pada Kamis (11/7/2019) pukul 18.30 WIB, di Purwokerto.

Begini cerita lengkap dan kronologi mutilasi yang menghebohkan ini.

Bedasarkan fakta yang berhasil pihak kepolisian kumpulkan, korban dieksekusi saat berhubungan intim dengan tersangka.

Di Kamar Kontrakan

Pembunuhan dan mutilasi sadis terjadi di Kota Bandung, Jawa Barat, Minggu (7/7/2019) sore.

Hal ini, terungkap setelah polisi melakukan pemeriksaan dan rekonstruksi.

Korban adalah wanita yang bekerja sebagai ASN Kemenag Bandung, berinisial KW, 51.

Sedangkan pelaku, adalah Deni Prianto, 37.

Baca juga:  ASN Tolak Pindah ke Ibu Kota Baru, Ada Sanksinya Gak Ya?

Deni menghabisi nyawa KW di sebuah kamar kontrakan di Jalan Rancamekar. Kelurahan Cipamokolan, Rancasari, Kota Bandung.

Kanit III Reskrim Polres Banyumas Ipda Rizky Adhiyanzah mengatakan, Deni membunuh KW pada saat berhubungan badan. Dengan menggunakan sebuah palu.

“Palu tersebut telah tersangka persipakan sebelumnya,” ungkap Rizky, Minggu (14/7/2019).

Pukulan dengan palu itu, mengenai kepala korban berkali-kali, hingga korban meninggal.

Lalu, pelaku memotong-motong tubuh korban di kontrakan tersebut.

Kemudian, pelaku membungkusnya pakai plastik berulang kali.

Semua itu, sudah pelaku siapkan sebelum akhirnya dimasukkan ke dalam kontener.

“Berapa kali (pukulan) ada banyak. Mutilasinya di bagian kepala dengan tangan.”

“Kemudian ada bagian badan, kemudian dari panggul ke kaki, jadi ada tiga bagian,” ungkap Rizky.

Pelaku sempat menyembunyikan alat bukti palu tersebut di kediaman orangtuanya.

Namun, pelaku tidak membuangnya.

Deni, sempat berbohong kepada polisi soal lokasi pembunuhan.

Dengan menyatakan, mengeksekusi korban di kawasan Puncak, Bogor.

Baca juga:  Peran TNI Polri serta Komponen Bangsa Sangat Dibutuhkan

Padahal, pelaku pembunuh berdarah dingin ini melakukannya di daerah Bandung.

“Tersangka bohong jika TKP-nya di Puncak, Bogor. Ternyata, di Bandung,” ungkap Kapolres Banyumas AKBP Bambang Yudhantara Salamun. Di Purwokerto, Jawa Tengah, Sabtu (13/7/2019).

Sebelumnya, tersangka mengaku bahwa, korban ia habisi di tempat umum yang sepi, dengan cara menebas leher hingga terpotong.

Bambang menyebutkan, berdasarkan pengakuan awal pelaku, setelah korban ia bunuh, mayatnya diangkut menggunakan mobil milik korban.

Pelaku, kemudian membuang potongan tubuh KW di dua lokasi berbeda.

Yakni di Kabupaten Banyumas, dan di Kabupaten Kebumen.

Deni melakukan aksi biadabnya ini seorang diri, dan sudah ia rencanakan sebelumnya.

Berawal dari Kenalan di Facebook

Pelaku dan korban berkenalan di media sosial Facebook, sekitar dua bulan sebelum Lebaran.

Setelah itu, mereka janjian bertemu hingga menyewa kontrakan di Jalan Rancamekar.

Dalam perkenalan itu, pelaku mengaku-ngaku sebagai petugas pelayaran di Jakarta dan berhasil mengelabui korban.

Baca juga:  Puting Beliung Rancaekek: Ratusan Rumah Rusak, Warga Masik Syok

Deni, pernah meminjam uang pada korban sebesar Rp20 juta.

Pelaku berjanji, akan mengembalikan pinjaman pada 8 Juli.

Namun saat KW tagih, Deni tidak mengembalikan uang pinjaman dan alah menghabisi nyawa KW.

Pelaku, juga berbohong dengan mengaku masih berstatus bujangan.

Ketika korban minta dinikahi, pelaku bingung karena dia sudah punya anak istri.

Selain itu, Deni berhasil membujuk korban agar membawa BPKB mobil Toyota Rush pada pertemuan terakhir dengannya.

Belakangan, mobil itu Deni jual.

Deni, kemudian polisi tangkap saat akan mengambil uang hasil penjualan mobil milik korban.

Pelaku Deni adalah seorang residivis, terakhir, kasusnya adalah penculikan mahasiswi.

Dalam kasus ini, Deni kena Jerat Pasal 340 KUHP subsider Pasal 365 ayat 3.

Atas perbuatan mutilasi sadis yang Deni lakukan ini, pelaku terancam hukuman kurungan pidana minimal 20 tahun dan maksimal seumur hidup.

SUMBER: Tribunnews