Mengolah Sampah ala Kang Fatah, Tuntas dan Ramah Lingkungan

By aminullah 04 Des 2017, 03:05:25 WIBKopi Pagi

Mengolah Sampah ala Kang Fatah, Tuntas dan Ramah Lingkungan

PENEMU Biomethagreen DR Muhamad Fatah Wiyatna, S. Pt, memperlihatkan mesin pengolah sampah yang diciptakannya. aminullah/ruang berita


SUMEDANG, ruberID -- Tingginya volume sampah sisa rumah tangga dewasa ini menjadi permasalahan kompleks yang dihadapi di berbagai daerah, khususnya kota-kota besar. Bila tidak dikelola dengan serius dan baik, volume sampah yang tidak terkendali ini menjadi ancaman serius bagi manusia. 

Selain mencemari lingkungan dan menimbulkan bau busuk tak sedap, tumpukan sampah yang menggunung juga akan berdampak buruk pada kondisi kesehatan manusia.

Berawal dari kerpihatinannya akan permasalahan sampah yang dihadapi warga di lingkungannya, DR Muhamad Fatah Wiyatna, S. Pt, M. Si, membuat suatu konsep pengelolaan sampah yang ramah lingkungan, dan ramah energi.

Bahkan, setelah melalui berbagai proses hingga proses penyempurnaan kosep ini, dosen Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran (Unpad) ini mampu mengembangkan konsep pengelolaan sampah yang mampu menghasilkan energi listrik dan gas ramah lingkungan.

“Konsep pengelolaan sampah ini saya sebut Biomethagreen. Konsep ini telah saya kembangkan dan diuji coba sejak tahun 2008. Sebelumnya, pada 2007, di Fakultas Peternakan Unpad, dalam rangka program pengabdian masyarakat, saya melakukan riset untuk pengelolaan limbah ternak," ujarnya di kediamannya di Kompleks Griya Taman Lestari Blok C5/1, Tanjungsari, Sumedang, Oktober 2016 lalu.

Saat itu, kata Kang Fatah, belum tren biogas selain dari kotoran sapi. Karena biogas dari kotoran sapi ini tidak praktis dan menimbulkan bau tak sedap.

"Kemudian awal 2008 saya mulai melakukan riset untuk biodigester," tuturnya.

Biodigester sendiri, kata Fatah, merupakan suatu sistem yang mempercepat pembusukan bahan organik. Darinya, terbentuk biogas dan senyawa-senyawa lain yang dihasilkan melalui pembusukan anaerob (suatu bakteri fakultatif yang dapat hidup dengan ataupun tanpa adanya oksigen).

“Konsepnya sederhana, mengelola sampah melalui teknologi yang praktis, tuntas, dan ramah lingkungan," ucapnya. 

Jadi, kata Fatah, bahan baku sampah organik kemudian diolah dan dapat menghasilkan gas sebagai bahan bakar hingga listrik yang ramah lingkungan.

"Bahkan menghasilkan pula pupuk organik yang bebas dari bahan kimia serta bermanfaat bagi tanaman, ikan, dan lainnya. Tujuannya, agar sampah organik ini tidak menjadi limbah bagi lingkungan,” ucap pria kelahiran Subang, 23 Oktober 1969 ini.

Dari penelitian, dan uji coba yang panjang itu, kata suami dari Inna Samsuminar ini, lahirlah konsep pengelolaan sampah yang disebut biomethagreen. Setelah konsep ini lahir, dimulai dari lingkungan rumahnya, dia berhasil mewujudkan lingkungan rumah yang bersih dengan pengelolaan sampah yang tuntas dan ramah lingkungan.

“Setelah dicoba digunakan di rumah, Biomethagreen ini selain menjadi solusi pengelolaan sampah yang tuntas dan ramah lingkungan juga mampu menghasilkan bahan bakar gas, dan energi listrik sehingga kami tidak lagi merasa khawatir akan ketersediaan dua energi ini," sebutnya.

Bahan Slurry (limbah) yang berasal dari biodigester yang berupa cairan ini, tutur Fatah, menghasilkan pupuk organik yang tidak mengandung bakteri penyebab penyakit dan bahan berbahaya lainnya. 

"Tetapi justru, memiliki nilai manfaat karena mengandung nutrisi atau unsur hara yang bermanfaat bagi tanaman, ikan dan lainnya,” terang ayah dari Syifa Zahidah, Hamzah Zainul Muttaqin, dan Nizar Taqiudien ini.

Seiring waktu, kata tatah, konsep Biomethagreen ini ternyata mulai dilirik oleh banyak pihak. Selain digunakan sebagai pengelola sampah rumah tangga, Biomethagreen ciptaannya ini telah banyak digunakan oleh rumah tangga. Juga oleh perumahan, perkantoran, pasar, rumah makan, hotel, peternakan, hingga rumah sakit diberbagai daerah di Indonesia.

“Saat ini, selain Unpad, mitra kami juga dari institusi pemerintahan, BUMD, BUMN, hingga perbankan," urainya. 

Saat ini, lanjut Fatah, biomethagreen banyak dimanfaatkan karena fungsinya dan berkat kesadaran masyarakat sendiri yang menginginkan lingkungannya bersih dari sampah, khususnya sampah organik. 

"Karena sampah organik ini mampu dikelola secara tuntas dan ramah lingkungan. Dengan konsep ini pula saya berharap mampu memperpanjang umur dari tempat pembuangan sampah akhir (TPSA) di tiap daerah, di Indonesia khususnya,” katanya. aminullah




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment