GARUT, ruber – Hama ulat menyerang tanaman cabai di Kabupaten Garut. Dampaknya, para petani meradang karena kualitas cabai jadi jelek hingga mengakibatkan harga cabai jenis ‘inul’ itu, menukik tajam.

Darso, 56, petani asal Kampung Karikil, Desa Sukatani, Kecamatan Cisurupan, mengeluhkan kondisi ini. Dia tak bisa merasakan hasil panen yang melimpah karena tiga hektare lahan kebun cabai ‘inul’ miliknya jadi sasaran hama ulat.

“Lahan cabai saya ada sekitar tiga hektare. Semuanya diserang ulat,” ujar Darso di kebun miliknya, Kamis (7/2/2019).

Menurut Darso, ulat-ulat itu menyerang tanaman cabai sejak sebulan terakhir. Diduga, serangan hama ulat ini disebabkan cuaca buruk yang terjadi terus menerus sehingga memicu ulat berkembang biak secara cepat.

Darso mengatakan, serangan hama ulat itu membuat kualitas cabai jadi jelek. Dalam kondisi normal, harga cabai jenis ‘inul’ berkisar Rp50.000-80.000/kg. Sekarang, terjun bebas hingga hanya Rp8.000/kg. “Kalau jumlah panennya tidak berkurang. Hanya kualitasnya itu, buruk,” kata Darso.

Para petani di beberapa lokasi pertanian cabai di Garut, berusaha mengatasi serangan hama ulat ini dengan rutin melakukan penyemprotan obat antihama.

Namun, upaya itu belum mendatangkan hasil maksimal. Mereka berharap, pemerintah segera turun tangan memberi solusi untuk mengatasi serangan hama ulat.

Pengamat masalah pertanian yang juga alumnus Fakultas Pertanian Unpad, Tien Suparto mengatakan, bahwa jenis hama ulat grayak tergolong rakus.

Ulat grayak atau spodoptera litura, selain menyukai tanaman cabai, juga merupakan hama pemakan segala jenis sayuran seperti kubis, buncis, kangkung, bayam, bawang, dan lain-lain.

“Ulat ini tidak berbulu. Para petani sering menyebutnya sebagai ulat tentara, karena senang menyerang tanaman dengan cara bergerilya di malam hari,” tutur Tien, Jumat (8/2/2019).

Disebut Tien, ulat grayak ini bergerak aktif saat sedang teduh dan tak ada sinar matahari. Mereka senang memakan daun tanaman hingga habis tak bersisa.

Cara membasminya, menurut Tien, jika jumlahnya tidak banyak bisa dilakukan secara manual dengan mengambilnya di malam hari saat mereka keluar, kemudian dimusnahkan.

“Jika jumlahnya banyak, bisa digunakan insektisida yang disemprotkan pada malam hari. Paling aman adalah menggunakan insektisida organik, misalnya hasil perasan daun dan batang tanaman tembakau atau yang terbuat dari biji tembelekan,” katanya. Red

 

loading…