OLEH: Rianny Puspitasari, S.Pd., M.Pd. ([email protected])

PADA awal Januari ini, Menteri Pertanian Republik Indonesia, Andi Amran Sulaeman melepas ekspor komoditas buah dan sayur ke negara China, Singapura dan Hongkong.

BACA JUGA: Menyikapi Riuhnya Hujatan Antarpendukung Paslon Pilpres 2019 di Media Sosial

Sayur dan buah tersebut dikirim langsung dari Kecamatan Banjaran, Kabupaten Bandung sebanyak 15 ton.

Beliau pun menyampaikan bahwa dipastikan ekspor tanaman holtikultura di Indonesia mengalami peningkatan 20% dibandingkan dengan tahun lalu.

Mentan juga mengatakan bahwa produk domestic bruto (PDB) dari sector pertanian pada 2014 hanya Rp900 triliun, tetapi sekarang mencapai Rp1400 triliun.

Tentu ini adalah kabar gembira di tengah berita banyaknya gempuran impor di berbagai bidang yang masuk ke Indonesia.

Namun yang patut kita perhatikan juga adalah, jangan sampai ekspor komoditas pangan ini hanya menjadi sebuah kebanggan semata.

Tentu sebelum kita melakukan ekspor komoditas pangan ini, khususnya buah dan sayur yang  notabene adalah makanan bergizi, kita pun harus melihat apakah rakyat dalam negeri sudah  terpenuhi kecukupan gizinya?

Menjadi sebuah ironisme jika ternyata kasus anak penderita  ‘stunting’ (kerdil) di Indonesia masih tinggi.

Indonesia masuk ke dalam 10 besar negara dengan kasus stunting tinggi.

Jumlah seluruh stunting di Jabar saja mencapai 29.2%, ini meliputi kabupaten Sukabumi, Kabupaten Cianjur, Purwakarta, Bandung Barat, Kabupaten Bandung, Majalengka, Kota dan Kabupaten Tasikmalaya.

Bahkan, Kabupaten Garut masuk kategori sangat tinggi hingga mencapai 43.2%.

Hal ini menjadi renungan bagi kita, jangan sampai kebutuhan pangan dan gizi luar negeri dipenuhi, namun kebutuhan pangan dan gizi rakyat dalam negeri terabaikan. 

Dalam Islam, tugas negara adalah memenuhi kebutuhan primer, bukan hanya sandang, pangan dan papan tapi juga kesehatan, pendidikan dan keamanan.

Semua ini menjadi kewajiban aparatur pemerintah untuk memastikan seluruh rakyat terpenuhi kebutuhannya.

Bukan, untuk dipandang mampu demi kebanggaan atau prestise di mata manusia, tetapi benar-benar mampu karena sadar bahwa hal ini akan dipertanggungjawabkan kelak di hadapan Sang Pencipta manusia.

Tanggung jawab pemimpin sesungguhnya sangatlah berat, maka sungguhlah heran jika pada saat ini justru banyak orang berlomba-lomba ingin berada di tampuk kekuasaan bahkan dengan menghalalkan segala cara.

Andai saja mereka sadar bahwa seorang pemimpin adalah yang orang yang paling lama hisabnya, niscaya mereka akan berpikir berulang kali untuk menerima amanah yang besar ini.

Dengan demikian, tentu kita merindukan penerapan sistem Islam dalam seluruh aspek kehidupan oleh para pemimpin yang tunduk dan amanah karena menjadikan Islam sebagai pegangan. Wallahu ‘alam bi ash showab. (*)

loading…