BANDUNG, ruber – Kolomnis Kompas, Karim Raslan memandang situs jejaring sosial, Facebook terus ditinggalkan penggunanya. Jutaan bahkan lebih akun Facebook saat ini diyakini tidak aktif atau sangat jarang digunakan penggunanya.

Kondisi ini membuat Facebook, tulis Karim dalam artikel opininya di Kompas.com, Jumat (25/1/2019), seolah sedang berada di ambang ‘kematian’. Facebook bukan tak mungkin kelak hanya tinggal nama dan kenangan layaknya Friendster, situs jejaring sosial yang sempat booming di akhir 1990’an hingga pertengahan 2000’an.

“Facebook memang masih tetap menjadi pilihan utama di pasar-pasar tertentu. Di Myanmar, misalnya, sekitar 91 persen pengguna internet masih sering mengakses Facebook,” tulis Karim.

Tapi di belahan dunia lain, Karim mengamati jika Facebook selalu dihadapkan pada isu keamanan data dan ujaran kebencian. Namun isu tersebut tidak terlalu diperhatikan di negara ASEAN, bahkan banyak netizen yang tak mengetahuinya.

“Hanya sedikit orang di Jakarta atau Kuala Lumpur yang mengetahui tentang tuduhan terhadap Sheryl Sandberg, Chief Operating Officer Facebook yang tenar atas serial bukunya ‘Lean In’,” tulis Karim.

Karim kemudian menuliskan pengalamannya yang mungkin lebih tepatnya disebut riset ‘tidak resmi’ soal ketertarikan warga, khususnya anak muda saat ini terhadap Facebook.

“Ketika saya berjumpa dengan sekelompok mahasiswa Universitas Gadjah Mada di pusat kebudayaan Indonesia, Yogyakarta, pada Desember lalu, mereka bercerita startup Mark Zuckerberg ini sudah menunjukkan tanda-tanda keredupan yang nyata. Rully Satria, seorang mahasiswa 20 tahun dari Padang, menilai Facebook sudah ketinggalan zaman.”

Dalam perbincangannya dengan Rully, Karim mendapatkan jawaban faktanya sekarang orang-orang tak lagi menghabiskan waktu untuk berselancar di Facebook seperti pada masa jayanya pada rentang 2008 sampai 2014 silam sebelum Twitter perlahan mulai menggerus mereka dan Instagram ‘menghajar’ secara telak dalam beberapa tahun terakhir.

“Saya sudah jarang membuka Facebook. Kalaupun buka Facebook, itu hanya untuk cek kabar keluarga,” katanya. Sekitar 50 persen pengguna internet di Indonesia berasal dari pengguna berusia 19 hingga 34 tahun. Sebagian besar milenial, sepeti Rully, tumbuh dewasa bersama dengan perkembangan internet.” tulis Karim menceritakan obrolannya dengan Rully.

“Mungkin yang kita saksikan bukanlah “kematian” dari Facebook, namun lebih tepatnya, hilangnya kejayaan Facebook itu sendiri. Facebook pernah menjadi Raja media sosial––pada masanya, Facebook adalah media sosial. Tapi di kebanyakan negara Asia Tenggara, hal ini sudah berubah. Dapatkah Facebook beradaptasi dengan perkembangan zaman? Kita masih harus melihatnya.” kata Karim di akhir tulisannya. Red

 

loading…