Dua Anak Korban Selamat Tsunami Banten Butuh Bantuan Psikolog

TASIKMALAYA, ruber — Keluarga korban bencana tsunami Banten asal Kabupaten Tasikmalaya masih menyimpan duka mendalam.

Sayang, hingga saat ini, pihak keluarga korban asal Kampung Maribaya RT 03/04, Desa Dawagung, Kecamatan Rajapolah, Kabupaten Tasikmalaya ini belum mendapatkan perhatian dari pemerintah setempat.

BACA JUGA: Sebelum Meninggal, Korban Tsunami Banten Asal Tasikmalaya Membagikan Pakaian-pakaian Bekas

Sekeluarga asal Tasikmalaya Jadi Korban Tsunami Selat Sunda

Mumun Munawan, ayah keluarga korban Iwan Kusnadi, 40; dan istrinya Irma Komala, 40; beserta anak bungsunya M Sabit Nasri, 7; masih merasakan kesedihan mendalam.

Betapa tidak, orang yang sangat dicintainya kini telah tiada. Bukan hanya anaknya, tetapi menantu beserta cucu tersayang.

Terlihat raut muka kesedihan masih terpancar di mukanya. Ketika ruber menyambangi kediamannya, Mumun menyiratkan masih belum bisa melupakan musibah yang terjadi di Banten akhir tahun lalu itu.

“Saya masih merasakan hari di mana mendapat kabar mengejutkan itu. Sungguh tidak menyangka, sorenya masih berkomunikasi. Malamnya mendapat kabar anak saya dan menantu beserta cucu menjadi korban bencana tsunami,” ujarnya terbata.

Mumun dan keluarga sedikit terhibur karena kedua cucunya, selamat dari bencana maut itu.

Kedua cucunya itu Mutiara Sani, saat ini masih duduk di kelas 5 SD dan M Nur Sabani kelas 2 SMP.

Mereka hanya mengalami luka pada bagian kaki yang hingga kini masih harus berobat jalan. Namun, kesehariannya, kedua anak yang selamat dari bencana besar tsunami itu hanya berdiam diri di kamar.

Dari pengamatan ruber, terlihat cucu perempuan Mumun masih terlihat murung.

Ketika ruber bertanya pun, dia tidak menjawab. Hanya tertunduk sambil berlari ke kamar.

Mumun mengungkapkan, cucu perempuan itu masih trauma atas kejadian yang menimpa kedua orangtuanya dan adiknya.

Sehari-hari ia mengurung diri di kamar, jarang makan dan minum. Hanya sesekali saja keluar kamar dan bermain ketika ada teman-temannya yang menjenguknya. Selepas temannya pergi, ia kembali ke kamar mengurung diri.

“Kasihan cucu saya, di usia belia harus kehilangan orangtua. Jadi yatim piatu,” ujar Mumun mengusap air mata di pipinya.

Ketika disinggung perihal bantuan dari pemerintah daerah, Mumun mengatakan sampai saat ini belum ada bantuan apapun.

Mumun menilai, pihak pemerintah kurang peduli terhadap warganya yang terkena musibah.

“Jangankan bantuan, ucapan belasungkawa saja tidak ada dari Pemerintah Kabupaten Tasik. Hanya dari pihak polsek dan desa saja yang datang. Dan dari Polres Kota Tasikmalaya yang datang turut mengucapkan belasungkawa,” ungkapnya.

Mumun mengaku berusaha pasrah atas kepergian anak, menantu dan seorang cucunya.

“Tapi, bagaimana nasib kedua cucu saya yang jadi yatim piatu? Terlebih yang perempuan masih trauma dan memerlukan pemulihan psikologi. Dari pihak keluarga hanya bisa menghibur sebisanya. Harapan saya, kalau pemerintah peduli, mungkin bisa membantu cucu saya untuk memulihkan kondisi psikisnya,” katanya.

Terpisah, Kepala Bagian Humas Setda Kabupaten Tasikmalaya Asep Darisman mengatakan, untuk bantuan korban kepada warga Tasikmalaya memang belum tersalurkan.

Asep berdalih masih banyak hal yang harus didahulukan.

“Bukan berarti melupakan warga kita,” ungkapnya.

Pada hari Senin (7/1/2019), lanjut dia, tim Dinas Sosial Kabupaten Tasikmalaya baru menyalurkan bantuan untuk korban yang berada di Banten.

“Mudah-mudahan, pada tahap kedua sesuai dengan arahan Pak Sekda pada tanggal 15 Januari bisa terkumpul dana untuk disalurkan,” ucapnya.

Namun, Asep mengatakan kisaran bantuan yang akan diberikan akan dilihat dulu berapa dana yang terkumpul.

“Jadi saya belum bisa memastikan berapa-berapanya, dan untuk korban traumatis kami akan berkoordinasi dengan pihak terkait untuk membantu pendampingan trauma healing,” katanya. ayana

loading…